RAMADHAN, BULAN KEMBALI PADA DEKAPAN ALLAH

Puasa Ramadhan yang sedang kita laksanakan pada bulan ini, dalam al-Qur'an diharapkan melahirkan aspek takwa dalam diri kita. Allah swt berfirman dalam surat Al-Baqarah :

يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

" Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian semua puasa, sebagaimana puasa itu diwajibkan atas umat-umat sebelum kalian, agar kalian bertaqwa " (Al-Baqarah : )

Salah satu aspek takwa yang diharapkan lahir dari berpuasa adalah adanya keinginan untuk melakukan sillaturrahmi. Maka dalam Al-Qur'an, kalimat takwa itu seringkali dirangkaikan dengan kalimat silaturrahmi. Allah swt berfirman :

واتقوا الله الذي تسآءلون به والأرحام

" Dan bertakwalah kamu kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling memohon dan peliharah sillaturrahmi"

Lihatlah dalam ayat tadi bahwa takwa dan silaturrahmi selalu digandengkan dalam al-Qur'an. Karena itu kedua hal itu tidak boleh dipisahkan. Artinya kalau orang itu bertakwa, tentu dia akan menyambungkan tali silaturrahmi. Kalau orang itu memutus tali silaturrahmi, maka tentu ia tidak takwa kepada Allah. Dalam surat Muhammad ayat 22 Allah menyebutkan :

فهل عسيتم ان توليتم أن تفسدوا في الأرض وتقطعوا ارحامكم

" Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan kekeluargaan ? "

Perintah silaturrahim tidak hanya ditujukan kepada makhluk-makhluk di alam nasut (fisik), tetapi juga ditujukan kepada makhluk-makhluk di alam malakut ( ruh ).Itulah silaturrahim yang hakiki. Di alam nasut, secara fisik, orang bisa saja bersilaturrahim dengan orang lain, tetapi ruhnya tidak. Kita bisa saja mengadakan halal bihalal dan mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, tetapi didalam hati kita masih tersimpan dendam dan tidak mau memaafkan.

Orang sering bersilaturrahim di alam nasut, tetapi di alam malakut, ruh mereka tidak ikut bersilaturrahim. Boleh jadi ada orang-orang yang tidak pernah berjumpa secara fisik, tetapi diantara mereka telah ada jalinan silaturrahim yang sangat erat seperti sudah dipertalikan jauh sebelumnya. Dikalangan psikolog, ada fenomena yang disebut déjà vu, yaitu suatu gejala persitiwa yang rasanya pernah dialami padahal tidak pernah dialami. Misalnya, ketika berjumpa dengan seseorang untuk pertama kalinya, kita merasa telah akrab dengan orang itu. Berdasarkan teori déjà vu, hal itu terjadi karena ruh-ruh mereka pernah melakukan silaturrahim di alam malakut.

Dalam surat ar-Ra'du Allah swt berfirman :

اانما يتذكر اولوا الألباب

الذين يوفون بعهد الله ولا ينقضون الميثاق . والذين يصلون ما امر الله به أن يوصل ويخشون ربهم ويخافون سوء الحساب . والذين صبروا ابتغاء وجه ربهم وأقامواا الصلاة وأنفقوا مما رزقناهم سرا وعلانية ويدرؤن بالحسنة السيئة أولئك لهم عقبى الدار . جنا ت عدن يدخلونها ومن صلح من أبائهم وأزواجهم وذرياتهم والملئكة يدخلون عليهم من كل باب . سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار

"....hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. ( yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan oran-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhanya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rizqi yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik. (yaitu ) surga 'adn yang mereka masuk kedalamnya bersama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua ointu. (sambil ) mengucapkan salamun alaikum bima sobartum maka alangkah baikya tempat kesudahan itu."

Dalam surat ar-ra'du ayat 23 tadi, setelah menyebutkan sifat-sifat manusia ulul albab, yaitu mereka yang selalu menepati janji, melakukan silaturrahmi, takut kepada Tuhan mereka, takut kepada hisab, mereka yang sabar, selalu mencari ridho Allah dan melakukan amal-amal kemanusiaan tanpa pamrih apapun, kemudian Allah menceritakan hamba-hambaNya yang beruntung . Mereka adalah orang-orang yang diberi anugerah untuk masuk surga bersama orangtua, istri dan keturunannya. Al-Qur'an menuturkan dengan kalimat yang sangat indah sekali : سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار Selamatlah bagi kalian semua, lantaran dulu kalian bersabar. Inilah tempat kembali yang paling indah bagi kalian.

Mereka masuk surga bersama-sama seluruh keluarganya, seperti melakukan suatu reuni pada hari akhirat. Reuni yang sering kita adakan didunia adalah reuni yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita tidak pernah bisa mengadakan sulaturrahim dengan orangtua kita yang sudah meninggal atau keturunan kita yang belum lahir. Tetapi nanti, pada hari akhirat, ada orang yang bisa melakukan reuni kembali dengan yang sebelum maupun sesudah mereka. Al-Qur'an menyebutnya "ābaihim wa azwājihim wa dzurriyyātihim. " Yaitu generasi terdahulu, generasi sezaman, dan generasi kemudian.

Hadirin sekalian yang berbahagia, diantara kita semua yang hadir di pagi Idul Fitri yang penuh barokah ini, siapakah yang tidak ingin berkumpul dengan anak-anak dan istrinya tercinta besok di hari akhirat ? Siapakah diantara kita yang tidak ingin kehilangan pelukan cinta dan kasih sayang orang tuanya dan orang – orang yang dikasihinya besok di hari ketika tidak ada lagi perdagangan, tidak ada khullah atau perkawanan dan persahabatan ?

Seorang yang mempunyai akal sempurna, kata al-qur'an, pasti menginginkan kebersamaan itu.

Reuni keluaraga di akhirat bagi keluaraga yang bertakwa dan saleh adalah merupakan suatu fakta. Abdullah Ibnu Abbas dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Ibnu Murdawaih meriwayatkan sebuah hadits Rasulullah saw :

" Ketika seseorang masuk surga, ia menanyakan orang tuanya, istrinya, dan anak-anaknya. Lalu dikatakan kepadanya, ' Mereka tidak mencapai derajat amalmu.' Ia berkata, Ya Rabbi, aku beramal bagiku dan bagi mereka. Lalu Allah memerintahkan untuk menyusulkan keluarganya ke surga itu. Setelah itu Ibnu Abbas membaca ayat 21 surat ath-Thur :

والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيئ

" Dan orang-orang yang beriman, lalu anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, Kami susulkan keturunan mereka pada mereka, dan Kami tidak mengurangi amal mereka sedikitpun .

Mungkin ada orang yang bertanya, Bukankah pada hari akhirat orang terpisah dari saudaranya, ibu dan ayahnya, istrinya dan anak-anaknya? Mana mungkin Allah menghimpun orang dengan seluruh keluarganya di surga 'Adn, padahal tingkat amalnya berlainan ?

Betul, pada hari akhirat istri berpisah dari suaminya, anak dari orang tuanya, pemimpin dari anak buahnya, lawan dari sahabatnya. Tetapi ini hanya berlaku bagi orang kafir, orang yang durhaka, dan orang-orang yang tidak mengisi hidupnya dengan amal saleh. Hal ini tidak berlaku bagi orang yang saleh. Oleh karena itu, bila orang lain mengatakan " HANYA MAUT YANG MEMISAHKAN KITA ' maka suami-istri yang bertakwa akan berkata " Bahkan mautpun tidak sanggup memisahkan kita"

Dalam kehidupan ini, di pasar tempat kita berbisnis, di kantor tempat kita bekerja, atau bahkan didalam rumah tangga kita sendiri, seringkali kita dihadapkan pada banyak masalah. Kenapa toko tetangga kita ramai, sementara toko kita sepi ?. Kenapa si A yang dipromosikan sebagai Kepala, padahal selama ini kita juga bekerja keras ? Kenapa rumah itu ditempati oleh saudara kita, kenapa bukan kita ? Kenapa si A mendapat hadiah terus menerus dari orang tua kita, padahal kita juga sama-sama anaknya ? Semua itu adalah kasus-kasus yang terus aktual dan ada disepanjang sejarah. Celakanya, jika masalah-masalah itu tidak bisa disikapi secara bijak, maka justru akan timbul sikap-sikap permusuhan, pertikaian, pembunuhan, dan juga pemutusan hubungan kekeluargaan.

Suatu kesalahan yang besar kalau kita mengalami kehidupan yang tidak menyenangkan kemudian menyalahkan ( hasud ) orang lain lalu memutuskan tali silaturrahmi atau menyangka Tuhan tidak adil, atau bahkan menuduh Tuhan telah meninggalkan kita.

Ini merupakan permulaan dari pesimisme kepada Tuhan. Kalau terus menerus terjerembab pada situasi ini, kita akan mengalami kebangkrutan ruhani, karena tidak ada lagi yang bisa diharapka. Pandangan negatif kepada orang lain dan Tuhan harus dihilangkan, dan harus diganti dengan pandangan optimis-positif. Jika Allah belum menghendaki kita menduduki jabatan itu, jika orang tua kita tidak memberikan harta itu kepada kita tetapi justru pada saudara kita, jika toko tetangga lebih ramai dari toko kita, maka kita harus ihtisab, introspeksi diri. Mungkin jika jabatan itu diberikan kepada kita, kita justru menjadi takabbur atau sombong. Kita harus mencoba berpikir positif (husnuddzon ), jika saudara kita diberi pemberian lebih banyak dari kita , anggap saja bahwa orang tua kita menganggap kita lebih mampu dan lebih bisa meraih kesuksesan daripada saudara kita yang hanya menggantungkan hidupnya dari pemberian orang tua.

Janganlah punya anggapan bahwa keuntungan selalu berada pada orang lain dan kerugian selalu menimpa kita saja. Anggapan itu tidak betul, karena yang lain pun mengalami hal yang sama. Janganlah melihat seolah-olah penderitaan itu milik kita. Allah swt berfirman:

وتلك الأيام نداولها بين الناس

" Dan masa ( kejayaan dan kehancuran ) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) " Al- Imron :

Ingatlah pesan Allah kepada Nabi Musa dalam Sepuluh Perintah Tuhan :

ولا تحسد الناس على ما آتيتهم من فضلي , فإن الحاسد عدو لنعمتي و رادّ لقضائي , ساخط لقسمتي التي قسمت بين عبادي

" Wahai Musa ), janganlah kamu hasud terhadap manusia atas apa yang telah Aku berikan pada mereka karena anugerah-Ku, sebab orang yang hasud adalah orang yang memusuhi ni'mat-Ku, menolak Qadha-Ku, benci terhadap pemberian-Ku yang Aku bagikan pada hamba-hamba-Ku"

Madrasah Ramadhan semoga mengembalikan kita pada fitrah kita yang suci. Itulah sebabnya Hari Raya yang jatuh setelah puasa Ramadhan nanti disebut " Hari Raya Idul Fitri". Kembali kepada kesuacian, kembali kepada kesadaran bahwa apa yang kita peroleh ini adalah merupakan anugerah Allah. Kembali pada fitrah ini, bahwa kita juga akan kembali pada Allah. Minallah wa ilallah. Semua orang ingin kembali kepada Allah. Hidup ini adalah perjalanan ingin kembali. Kembali ke asal. Hidup ini bisa diumpamakan seperti anak kecil yang menangis, lalu dilihat ibunya, dan didekaplah ia oleh sang ibu, maka dia akan diam. Dia kembali ke ibunya. Kita semua ingin kembali pulang. Kalau seseorang tidak berhasil pulang, ia disebut tersesat. Ketersesatannya itu tidak bisa ditebus. Meskipun ia ditampung di rumah yang mewah sekalipun, yang lebih baik dari rumahnya sendiri, ia akan tetap merasa sengsara. Ia tetap ingin pulang.

Semua proses kembali ini, yang paling mutlak adalah kembali kepada Allah. Dimensinya spiritual. Anak kecil yang berhenti menangis karena berhasil didekap ibunya, lebih merupakan gejala psikologis semata. Tetapi kalau kita berhasil kembali dalam dekapan Allah, maka itu adalah pengalaman ruhani yang jauh lebih dalam lagi. Sebaliknya orang yang tidak bisa kembali disebut orang yang dhallun, karena ia ia tidak pernah mencoba membangun hubungan yang baik dengan Allah dan sesamanya. Inilah yang ingin dicapai dari puasa dan zakat. Punya hubungan yang baik dengan Allah dan manusia.

Madrasah Ramadhan merupakan media kita kembali pada Allah. Sama dengan potensi kecerdasan. Sejak kecil kita mempunyai bakat untuk belajar dan memahami sesuatu, Akan tetapi kita tetap memerlukan pendidikan untuk betul-betul mengembangkan kecerdasan otak kita. Sejak kecil kita mempunyai bakat. Tetapi itupun baru tumbuh menjadi sikap yang mapan apabila dikembangkan melalui latihan dan pendidikan. Sejak lahir kita punya benih keinginan kembali kepada Allah swt. Itu harus kita latih melalui berbagai ibadah, termasuk berpuasa di bulan Ramadhan, sehingga potensi takwa kita benar-benar manifest.

(HUMASY)